Rabu, 13 Agustus 2014

10 Nasihat Untuk Menjadi Isteri Solehah

HATI ibu mana yang tidak gembira tatkala anak gadisnya dipinang orang. Sukanya hati bukan kepalang lalu pelbagai langkah bersiap untuk melangsungkan pernikahan dijalankan menurut tertib dan adat.
Biasanya ibu dan ayah akan bertungkus-lumus berusaha menjadikan majlis akad nikah puteri kesayangannya dengan penuh komitmen supaya meriah dan ceria.
Adalah wajar ibu bapa pengantin wanita memberikan petua dan nasihat buat anaknya yang bakal melangsungkan pernikahannya. Nasihat supaya anak memelihara dan menjaga alam rumah tangganya sebaik yang terdaya.
Inilah yang pernah dilakukan isteri ‘Auf ibnu Mihlam Asy-Syaibani yang dikatakan ada memberi nasihat kepada puterinya yang akan bernikah dengan Raja Kindah. Pesan isteri ‘Auf Ibnu Mihlam Asy-Syaibani: “Puteriku, kini engkau meninggalkan tempat kelahiran menuju rumah baru dan orang baru yang belum pernah engkau ketahui keadaan dan wataknya. Maka, jadilah engkau sebagai pengabdi yang baik bagi suamimu, supaya dia menjadi pengabdi yang baik juga bagimu. Perhatikan baik-baik sepuluh perkara daripadaku supaya ia menjadi modal bagi hidupmu.”


Begitulah kasihnya isteri ‘Auf terhadap anak gadisnya, tetapi kasihnya itu bukan mengadakan majlis besar-besaran dan serba mewah, kasih sayang dizahirkan melalui kaedah menyalurkan nasihat berguna buat anaknya melayari alam rumah tangga supaya aman sejahtera dan bahagia.
Pesanan pertama kepada anaknya: “Jadilah engkau sebagai pendamping hidupnya yang selalu menerima apa adanya. Sebenarnya nasihat isteri ‘Auf itu bertepatan kehendak agama kerana sikap qanaah, bersedia dengan hati lapang terhadap kemampuan suami, menu keharmonian rumah tangga”. Erti kata lain, isteri tidak sesekali membebankan suami yang di luar batas kemampuannya. Inilah seharusnya ada pada diri seorang isteri solehah.
Seterusnya pesanan kedua beliau: “Bergaullah engkau bersama suamimu dengan cara mendengar dan mentaatinya.” Seorang Ulama’ pernah mengatakan: “Seseorang isteri itu hendaklah memberikan layanan pada suaminya, memelihara anak, mengatur urusan rumah tangga sebaik mungkin. Hendaklah dia memberikan layanan pada suami dengan layanan yang wajar dan sesuai keadaan.”
Isteri ‘Auf berkata lagi: “Tunjukkanlah dirimu di hadapan matanya sebagai seseorang yang paling menarik baginya dan tampilkan dirimu di hadapan hidungnya sebagai seseorang yang paling harum.” Kebijaksanaan dan kesediaan isteri menonjolkan imej peribadi dalam aspek lahiriah dan dalaman mampu mewujudkan hubungan lebih intim pasangan suami isteri. Ia ibarat suatu tembok pengukuh dalam membina keluarga bahagia melalui landasan diredai Allah.
Beliau juga berpesan supaya memperhatikan penjadualan waktu makan yang betul dan tepat serta menjaga ketenteraman masa tidur. Jadi, jika diteliti apa dipesan isteri ‘Auf kepada anak gadisnya, sesuai dan relevan dijadikan sebagai pedoman kita semua.
Pesanan lain, “Sesungguhnya kelaparan seseorang akan menyebabkannya mudah beremosi dan kurang tidur pula menyebabkan seseorang itu mudah melepaskan kemarahan.”
Ini adalah langkah proaktif isteri mengelakkan suasana kurang baik dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan suami. Memang lumrah manusia, emosi menjadi kurang stabil dan mudah dibelenggu rasa kurang tenang apabila perut lapar atau kurang tidur. Lagilah bahaya kerana emosi negatif boleh meletup tanpa disangka. Justeru, apa yang disarankan isteri ‘Auf adalah jalan pintas untuk membendung anasir negatif daripada muncul dalam rumah tangga. Mengamalkan budaya mencintai kebersihan juga ditonjolkan dalam wasiatnya supaya anaknya menjaga kebersihan tempat tinggal, keamanan harta suami dan berikan perhatian kepada suamimu serta keluarganya.
Jika kita amati pesanan itu, kita akan jumpa peringatan terbaik mengenai penjagaan persekitaran rumah tangga yang ceria dan bersih. Juga terselit ingatan supaya isteri menjadi seorang yang beramanah menjaga harta benda dalam rumah tangga.
Pesanan beliau selanjutnya dikira penting dipelihara rapi oleh isteri. Kata beliau: “Janganlah engkau membuka rahsia suamimu kepada orang lain dan jangan engkau melanggar perintahnya”. Islam menegah isteri menceritakan hubungannya dengan suami atau hal rumah tangga kepada orang lain.
Yang terakhir katanya: “Janganlah engkau berasa susah ketika dia dalam keadaan senang dan janganlah engkau berasa senang ketika dia dalam keadaan susah, kerana yang pertama termasuk moral yang tidak sesuai dan yang kedua termasuk merosakkan suasana. Jadilah engkau orang paling mengagungkan suamimu, agar dia menjadi orang yang paling memuliakanmu.” Begitulah pesanan bermanfaat dan cukup indah dikemukakan isteri ‘Auf Ibnu Syaibah kepada anak gadisnya. Ibu bapa sewajarnya menitipkan pesanan untuk dijadikan panduan kepada anak yang akan melangsungkan pernikahan demi kesejahteraan rumah tangga mereka.
INFO: 10 pesanan jadi isteri solehah
  1. Sentiasa menjadi pendamping suami, menerima segala kekurangan dan tidak membebankan suami.
  2. Mendengar dan mentaati suami.
  3. Memberi layanan baik kepada suami, pelihara anak dan menjaga rumah tangga.
  4. Sentiasa tampil menarik dan wangi untuk suami.
  5. Mampu mewujudkan hubungan intim yang baik dengan suami.
  6. Menjaga makan minum suami yang betul, tepat serta waktu tidur bagi elak emosi suami terganggu.
  7. Sentiasa menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal.
  8. Amanah menjaga harta benda dalam rumah tangga.
  9. Isteri tidak boleh membuka aib suami dan hal rumah tangga kepada orang lain.
  10. Isteri kena jadi orang yang paling mengagungkan suami.

Sumber: http://albakriah.wordpress.com/

Jumat, 08 Agustus 2014

Ketika Hati Tersakiti

Ketika hati tersakiti, ada tiga proses yang kutahu. Ternyata 'memaafkan' dan 'sembuh dari sakit hati' itu adalah dua hal yang berbeda. Lalu dengan 'kembali seperti semula', menjadi tiga hal.

Memaafkan itu harus, wajib bagi orang-orag yang beriman pada ALLAH Yang Maha Pemaaf. Bisa dibiilang, kasarnya, "ALLAH aja maafin, masa manusia nggak. Sombong bener..." Tapi mungkin kata-kata ini dapat dibalik juga: "Nggak segampang itu gue sanggup maafin! Emang gue itu ALLAH!"

Yah, dua sikap itu bisa terjadi pada manusia normal, tergantung derajat sakit hatinya. Sikap kedua mungkin lebih mudah dihindari oleh kaum sufi, yang sungguh membuat iri diriku dan siapapun yang masih merasa tergolong 'rakyat jelata', yang keimanan dan ketaqwaannya masih naik turun Gunung Semeru (kenapa pula Semeru??). Dengan demikian, solusi untuk masalah yang satu ini jelas: tingkatkan iman dan taqwa (Gampaang...ngomongnya!).

Sembuh dari sakit hati itu biasanya pasti, hanya saja waktu perolehannya bervariasi. Ada yang dalam sejam bisa langsung sembuh, ada yang baru sanggup bertahun tahun kemudian. Sungguh beruntung orang-orang yang tergolong tipe pertama. Hidup nggak pernah susah. Orang-orang ini bisa jadi sejak lahir sudah beruntung, atau baru-baru saja. Entahlah. Tapi yang jelas, mereka tergolong manusia-manusia yang bersyukur.

Bersyukur? Ini juga terdengar gampang. Coba bayangkan hal yang paling buruk yang tak pernah kita inginkan terjadi. Yakin, tak sepatah kata pun selain syukur meluncur dari mulutmu?

Lupakan. Kau takkan pernah tahu kekuatan itu, sampai musibah itu benar-benar terjadi. Dan saat semua itu terlewati dengan luka yang telah menutup, barulah kau tahu: kau sudah sembuh. Dan itu berarti selamat, karena kau sudah mampu masuk dalam golongan yang beruntung itu: manusia-manusia penuh rasa syukur.

Hakikat Nikah...

Jika hakikat pernikahan adalah karena SEX,
maka pasangan rajin bertengkar jika servis di kamar tidur tidak memuaskan.
Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA,
maka pasangan bakal bubar jika bangkrut.
Jika hakikat pernikahan adalah karena BEAUTY/BODY,
pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka keriput atau badan jadi gendut.
Jika hakikat pernikahan adalah karena ANAK,
maka pasangan akan cari alasan utk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.
Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN,
pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.
Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA,
hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik,
lagipula manusia yang dicintai pasti MATI / PERGI.
Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH,
sesungguhnya ALLAH itu KEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kpd makhlukNYA.
Dan ALLAH mencintai hambaNYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya.
Maka tak ada alasan apapun didunia yang dapat meretakkan rumah tangga
kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.

Kamis, 07 Agustus 2014

Love Story



Atas Nama Cinta
Bismillahirrohmaanirrohiim...

Atas Nama Cinta, cinta yang mempersatukan kami. Berawal dari  perkenalan tanpa tatap muka di malam minggu 19 Januari 2007 atau malam1 muharram 1428 H, hingga pertemuan di salah satu tempat perbelanjaan di Medan pada Minggu, 28 Januari 2007 tepatnya 9 Muharram 1428 H membuat kami saling mengenal dan memahami. lama kelamaan rasa kenal itu ingin semakin dalam, dan berakhir dengan cinta. Percintaan yang penuh warna itu telah kami lewati bersama. walau terkadang pertengkaran kecil menghiasi kisah cinta kami, sudah begitu banyak kisah suka duka yang sudah kami lalui. dan itu semua atas nama cinta.

Ya Allah, jika kami jatuh hati, izinkanlah kami saling menyentuh hati yang tertaut pada-Mu, agar kami tidak terjatuh dalam jurang cinta semu. Kini setelah sekian lama kami mengenal dan memahami atas nama cinta, kami putuskan untuk hidup bersama dengan ikatan cinta yang tulus, murni dan indah. Kami berharap Allah tetap mempersatukan kami dalam cinta. Duhai Allah Tuhan Yang Maha Cinta izinkanlah kami tetap bersama dengan ikatan yang kuat sampai saat usia memisahkan kami.

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati kami ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah bersatu salam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu, kukuhkanlah ya Allah ikatan kami, kekalkanlah cinta kami, tunjukkanlah jalan kami, penuhilah hati kami ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar, Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Ya Allah, andai Engkau berkenan, limpahkan kepada kami, cinta yang menjadikan pengikat rindu antara Rasulullah dan Khadijah Al-Qubro, yang Engkau jadikan mata air kasih sayang antara Ali Radhiyallahu Anhu dan Fatimah Az-Zahra.

Ya Allah, andai hal itu layak bagi kami, maka cukuplah doa kami dengan ridho-Mu untuk jadikan kami sebagai suami istri yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling mengingatkan dikala senang, saling menyempurnakan dalam ibadah, saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan ya Allah sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah kepada-Mu dan bukti cinta kami kepada sunah Rasul-Mu.
 InsyaAllah….
Aamiin.. yaa rabbal'aalamiin...



Jumat, 20 Mei 2011

CerBung, Part 3 : Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia
oleh Kembang Anggrek pada 19 Mei 2011 jam 11:05By: (@_fa)

Setelah ayah menjelaskan semua yang berkenaan dengan Kak Andre, Mas Feri dan Ridha, beliau meminta pendapatku tentang perjodohan ini. Aku yang dari awal hanya diam dan sekedar menyimak pembicaraan penting ini, kontan saja merasa salah tingkah di depan mereka. Meskipun dengan berbagai alasan ayah dan ibu lebih setuju aku memilih Kak Andre sebagai calon tunanganku, tapi keduanya masih memberiku kesempatan untuk mengungkapkan respon dan pendapatku tentang Kak Andre dan Ridha; mana di antara keduanya yang layak untuk ku jadikan imam keluarga dan penentu masa depan anak-anakku kelak.

Ya begitulah aku di depan mereka; diam dan membisu tanpa berkata sedikitpun. Sampai-sampai ibu mengulang pertanyaan yang sama padaku, pertanyaan yang sempat dilontarkan ayah barusan. Dengan wajah malu, aku mulai mengangkat suara ditemani sepenggal lidah yang terasa kelu, gugup dan terbata-bata: "Sebenarnya Aisya tidak tau harus berkata apa. Aisa juga tidak tau harus mulai menilai Gus Aan dan Ridha dari sudut pandang yang mana. Sejauh yang Aisya tau, baik Gus Aan maupun Ridha sama-sama baik dan bertanggung jawab. Aisya lihat itu dari amanah yang mereka emban sekarang, apalagi kedepannya nanti. Dua hal itu Aisya rasa sudah cukup mewakili tolak ukur kesalehan seseorang...", paparku pada ayah, ibu dan tante.

"Hmm bagaimana menurutmu, bu?", tanya ayah pada ibuku.

"Ibu rasa Aisay ada benarnya juga yah. Dari semua yang ibu dengar barusan, dua-duanya baik dan bertanggung jawab. Kalo boleh ibu kasih saran, malam ini Aisya shalat istikharah; minta petunjuk pada Allah. Ibu yakin sekali, petunjuk itu bisa menjadi jawaban dari kegamangan yang sedang Aisya hadap saat ini", papar ibu.

Aku yang berada di dekat Tante Hera hanya bisa menjawab: "Insya Allah, bu...".

"Ya sudah kalo githu, selang 3 hari ayah tunggu jawaban dari Aisya. Semoga apa yang kita bicarakan saat ini bisa memberi berkah buat keluarga besar kita nanti, aAmin", kata ayah seraya melepas kopyah yang masih melekat di kepala.

"Aamin", kami bertiga serempak menjawab doa penutup yang ayah bacakan.

Setelah makan malam, aku pergi ke ruang tengah ditemani file-file yang siap dikirim ke Semarang. Senyum pagi hari ini dan kasih sayang orang-orang terdekat cukup memberi arti terindah bagiku; membuatku mampu melerai semua kegamangan dan kebingungan yang ada, sekaligus menghadirkan semangat baru untuk tetap fokus dengan file-file pada laptopku. Sambil menunggu file terkirim lewat email, aku mulai merenung dan membatin:

"Aisya, bagaimana ini?! Bagaimana juga dengan simpati yang sempat terukir indah dalam hatimu pada sosok Ridha? apa mungkin istikharah yang akan kau lakukan nanti benar-benar bisa dijadikan jawaban dari semua peristiwa yang terjadi hari ini, sementara kau sudah menaruh hati pada salah satu dari mereka; tak lain adalah Ridha??!"

Ya... perasaan yang sedang berbicara itu benar adanya, aku memang sempat kagum dan simpati pada Ridha. Tapi entahlah, apa karena aku merasa ada sosok Mas Feri dalam dirinya atau mungkin karena Ridha lebih dulu hadir dan masuk dalam duniaku jauh sebelum Gus Aan menampakkan dirinya di depanku; sambil pura-pura jaim seolah tidak mengenalku, ckckckckcc ^_^ lucu adja kalo aku ingat-ingat kembali kejadian kemaren lusa. Dengan kondisi basah kuyup , dia datang sendiri ke Malang dan mencari-cari alamat butik seperti yang disarankan Mbak Yuli.

"Ya Allah, berilah hamba rahmad dan maghfirahMu agar bisa menjalani istikharah ini dengan perasaan tenang dan netral, tanpa harus condong dan berharap banyak pada salah satu dari keduanya (Ridha dan Gus Aan), Aamin Ya Rabbal Kuni Wats-Tsaqalain".

Tiga hari berikutnya...

Aku lihat ayah dan ibu yang sedang menikmati suasana sore hari di halaman rumah kami, memperhatikan indahnya koleksi anggrek milik Tante Hera yang menghiasi halaman ini. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara tante yang sepertinya sedang memanggilku. Sementara aku masih menyulam senyum terindahku ketika memperhatikan ayah dan ibu dari jendela kamar. Akhirnya, tante sampai juga di depan kamarku.

"Tante lihat dari kemaren-kemare Aisya jarang keluar kamar. Apa yang membuat Aisya diam menyendiri seperti ini..?", tanya tante mengagetkan senyum yang ku sampul jauh untuk ayah ibu dari jendela kamar ini.

"Oowh iya, tante sampe lupa, Mas Zein nyuruh tante manggil Aisya keluar. Ayuuk kita kesana bareng. Sekalian tante mau nunjukin disain baju-baju terbaru yang sudah digarap sejak awal April lalu", kata tante berusaha menghiburku.

"Ayah memanggilku... kalo githu Aisya ambil jilbab dulu trus kita ke halaman", balasku.

Tak lama, sampailah kita di halaman rumah...

"Aisya, bagaimana dengan istikharahmu selama tiga hari ini? Apa sudah ada petunjuk siapa dari mereka yang Aisya pilih?," tanya ibu langsung ketika aku sudah berada di antara mereka.

"Begini ibu..., selama tiga kali Aisya melakukan istikharah, di dua istikharah terakhir Aisya baru mendapatkan petunjuk yang sama. Sedangkan di istikharah pertama Aisya tidak mendapatkan petunjuk apapun", jelasku pada ibu dan ayah, juga tante yang serius mendengarkanku.

"Trus, apa petunjuk itu?!!", tanya ayah.

"Di istikharah yang kedua dan ketiga, Aisya merasa ada seseorag yang mengetok pintu rumah ini. Aisya beranikan diri pergi ke ruang depan dengan mukena yang masih Aisya pakai. Ketika Aisya buka pintu, Aisya meliat Kak Feri mengucapkan salam dan Gus Aan berada di belakang Kak Feri. Ketika Aisya hendak menjawab salamnya, Aisya terbangun dari tidur... Ya begitulah apetunjuk yang Aisya dapat", paparku.

Tante yang dari awal mendengarkan penjelasanku hanya bisa berkomentar: "Hmmm.... Mungkin ada kalanya aku harus mengalah dan mengizinkan Aisya bersanding dengan nak Andre, toh Feri tidak keberatan dengan hal itu...".

Sebulan kemudian, aku melangsungkan pertunangan sekaligus akad nikah dengan Gus Aan di Semarang, tepatnya di mesjid At-taqwa samping rumah yang pernah dibangun kakek dulu. Gaun yang dihadiahkan Mbak Yuli juga aku kenakan di hari yang begitu bersejarah ini. Tiga permintaan yang aku ajukan secara pribadi pada Gus Aan benar-benar dipenuhinya dengan penuh harap mendapat rahmad dan ridha-Nya.

"Tiga permintaan itu, antara lain:

1. Mahar pernikahan kami, hanya satu; Mushaf Al-quran Al-kariem

2. Komitmen pernikahan kami, hanya satu; Kejujuran

3. Inti dan tujuan dari pernikahan kami, hanya satu; Ridha Ilahi...".


Semoga bisa mengambil hikmah yang tersurat maupun tersurat dari kisah ini, Aamin...
....(@_fa)
Selesai................
OOOOOOOOOOOOOOOOooooooooooooooooooooooOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO

CerBung, Part 2 : Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia . . 

oleh Kembang Anggrek pada 18 Mei 2011 jam 5:02By: (@_fa)

Perasaan bingung dan penuh tanda tanya masih saja menghantuiku sampai pukul 23.00 malam. Ditambah lagi dengan kabar terbaru yang disampaikan tante kalo ayah dan ibu sudah berangkat menuju Batu sejak magrib tadi, agar bisa menjelaskan semua duduk permasalahan yang ada. Sorenya, tante juga cerita kalo Gus Aan sekeluarga pernah menemui ayah-ibuku di Semarang dan menyampaikan maksud baik mereka; tanpa pernah memberitauku tentang kedatangan mereka sebulan yang lalu. Bahkan keduanya berpesan pada tante untuk tidak memberitauku tentang hal ini, sampai mbak Yuli sendiri yang menyampaikan niat adik sepupunya itu padaku.

Sungguh, malam ini benar-benar berbeda dari sebelumnya; aku diantara file-file yang harus dibaca ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan sedikitpun pada laporan bulanan yang harus aku kirim ke Semarang besok lusa, terutama laporan keuangan di butik kami. Sayangnya, pikiran kacau dan tidak fokus dengan file-file pada laptop yang sudah menyala dari pukul 19.30 membuatku bolak-balik tidak karuan. Ingin sekali memejamkan mata, mencoba menghilangkan semua kegamangan yang terjadi hari ini, tapi semua usahaku berakhir sia-sia. Bisa saja aku menutup kedua bola mataku, tanpa pernah bisa menutup diri dari realita yang sedang aku hadapi; karena terus berdiam diri seperti ini tidak akan bisa menenangkan kekacauan hati yang hanya bisa diisi dengan pertanyaan-pertanyaan tak beralasan.

Rasa bosan membuat diriku sengaja ingin melangkah ke kamar mandi. Membasahi wajah dengan wudhu, kemudian menuju mushalla kecil di samping kamar Tante Hera dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat disana; memohon ketenangan hati sampai aku benar-benar yakin dengan penjelasan ayah besok sore. Beberapa ayat dari mushaf biru yang dibelikan tante untukku ikut menutup munajatku malam itu. "Ya Allah, berilah ketenangan hati kepada hambaMu yang penuh prasangkan dan ketidakpastian ini, aAmin Ya Mujibas-Saailiin...".

Setelah melipat rapi mukena yang ku pakai, aku tidak kembali ke kamar. Tetapi lebih memilih beranjak menuju ruang kerja tante Hera. Aku ketok pintu dan minta tante Hera menemaniku tidur malam ini. Dengan senyum khasnya, beliau menuruti permintaanku, bakhan berjanji akan mengajakku jalan pagi untuk merefreshkan diri dari kebingungan dan kegamangan yang sempat terjadi hari ini.

Kota Kenangan. Selasa, 13-4-2008

Ais... Ayo cepetan! tante dah lama nunggu di luar, ntar keburu naik lagi mataharinya", seru tante dari halaman rumah.

Iya tante, ni Aisya lagi ngerapiin jilbab...", sambil menyulam senyum pagi buat tante, aku bergegas keluar dan mengunci pintu rapat-rapat.

"Kira-kira, kita mau jalan kemana pagi ini?", tanyaku pada tante yang sedang memperhatikan bunga anggrek kesukaannya.

"Kita ke taman komplek sebelah. Kemaren Tante perhatikan, disana nampak indah dan masih keliatan natural. Kebetulan disampingnya ada Toko Anggrek yang bisa tante kunjungi, hehehee...", sambil tak lepas dari senyum khasnya.

"Okelah kalo githu... Yuk kita berangkat sekarang", sambutku ditemani keceriaan pagi yang mulai bisa merebut hati dari pikiran kacau yang menghantuiku.

Setelah agak lama berjalan santai, sampailah kita di taman komplek sebelah...

"Nah, itu dia taman yang tante bilang...", sembari menunjukkan jarinya pada area taman yang begitu indah dan sejuk.

Disini, tante menceritakan semua yang beliau ketahui dari keluarga besarku di Semarang, termasuk Mbak Yuli yang dari awal sudah simpati dengan sikap dan pribadiku. Kata Mbak Yuli pada tante Hera: : "Meskipun Aisya itu sedikut usil, tapi dia anak yang baik dan nurut sama orang tua. Dia juga mudah bergaul dengan semua orang, tanpa pernah lupa dengan nilai kesederhanaan dan kesantunan". Jujur saja, aku terlihat begitu tersipu mendengar semua tentangku dari Mbak Yuli. Semoga ini bisa melatihku untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya, aAmin Ya Rabb...

"Tante, sepertinya embun ditaman ini sudah pada menguap ke atas dan matahari juga mulai menampakkan keperkasaannya... Bagaimana kalo kita pergi ke Toko Anggrek sekarang sebelum pulang ke rumah?", ajakku pada tante sambil menunjuk toko yang baru dibuka pemiliknya.

"Boleh, yuuk kita pergi kesana", sambut beliau.

Sebelum sampai ke toko itu, kami bertemu dengan Bu Erli ...

"Eeh, mbak Hera... tumben pagi-pagi udah lewat sini...", tanya bu Erli

"Iya ibu.. kebetulan tadi kita pergi ke taman di komplek ini.. sekalian pengen mampir ke Toko Anggrek di depan situ...", balas Tante.

"Wah kebetulan sekali kalo githu... Gimana kalo mbak Hera mampir dulu ke rumah saya... Ridha, ini ada mbak Hera dan Aisya di depan!", panggil Bu Erli pada Ridha, anaknya.

Aku melihat seseorang di samping rumah Bu Erli yang terlihat sibuk membersihkan sisa kayu dan beton di depan sebuah bangunan yang masih terlihat baru.

"Iya bu... saya ingat nak Ridha... setiap kali pulang liburan, dia sempatkan main ke rumah...", kata Tante Hera.

"Tapi, ko sepertinya dia sedang sibuk githu bu...?", tanyaku.

"Ibu lupa ngasih tau kalian yaa... Bangunan itu sengaja dibikin buat klinik nak Ridha.. Biar kalo mau berobat ngga jauh-jauh ke rumah sakit...", sambil tersenyum bangga dengan keberhasilan anaknya itu, Bu Erli menjelaskan pada kami.

"Alhamdulillaah, saya ikut senang dengan keberhasilan nak Ridha... saya juga ngerasa dekat sekali dengan dia... Serasa anak sendiri... Entah kenapa... Kalo liat nak Ridha jadi inget Feri..., Apa mungkin karna Feri juga pernah bercita-cita jadi dokter ya?!!", sambil tersenyum manis, tante terus saja menyertakan mas Feri dalam ingatan beliau.

"Sebenarnya ya mbak, saya tidak keberatan kalo Aisya jadi menantu saya...", kata Bu Erli tiba-tiba.

"Saya bicara jujur lho Mbak Hera... Asal tau adja ya mbak, setiap kali Ridha datang dari rumah Mbak Hera, selain mbk dia juga sering cerita tentang Aisya...", jelas Bu Erli pada kami berdua; membuatku tidak enak hati mendengar penjelasan berikutnya.

"Aah Bu Erli bisa adja... Kita kan tinggal berdua. Kalo bukan cerita tentang saya, pasti Ridha cerita tentang Aisya... Iya khan Ais?!' tanya tante mengagetkanku

"Eeh.. iya iya...", jawabku gugup.

"Tapi bener lho mbak, serasa beda adja kalo dia cerita tentang Aisya... dibilangnya Aisya itu ngga pernah keluar menemui Ridha, kalo dia lagi ke rumah Mbak Hera... kecuali Mbak Hera yang nyuruh Aisya keluar menemui Ridha, atau keduanya betemu di butik ketika saya menyuruh Ridha ngambil gaun pesanan saya. Sebagai ibunya, saya faham dengan yang satu ini... Kira-kira, bagimana kalo kita lanjut semua ini jadi hubungan keluarga? Bagaimana Aisya, kamu setuju?", pertanyaan spontan Bu Erli yang baru saja dilontarkannya itu benar-benar menodongku.

"Eeeh... hmmm... (aduuh aku bingung sekali... apa yang harus aku katakan pada bu erli..??)", batinku.

"Eeh iya bu, sepertinya kita sudah harus segera pulang... khawatir karyawan di butik sudah pada datang... nanti sore ayah Aisya datang dari Semarang... insya Allah saya sampaikan maksud baik Bu Erli dengan keluarga kami. Kami permisi dulu ibu, Assalamu'alaikum..", pamit tante pada Bu Erli dan Ridha yang berada tidak jauh dari kami.

Sore 16.00, ayah dan ibu tiba di rumah. Aku bantu merapikan ruangan dan bawaan mereka. Setelah beristirahat agak lama, ayah mulai menyuruh kami berkumpul habis shalat maghrib untuk menceritakan kedatangan Gus Aan beserta keluarganya di Semarang. Beliau bilang kalo Gus Aan bercerita banyak tentang kuliahnya di Kairo dan pertama kali dia mengenalku; Neng Ica, teman baikku di Pesantren yang juga adik bungsu Gus Aan mengenalkanku padanya. Aku tidak menyangka sampai sejauh itu, ternyata Neng Ica serius untuk menjadikanku kakak iparnya.

"Mas Zein, sepertinya Bu Erli, salah satu pelanggan disini pengen menjodohkan anaknya Ridha dengan Aisya... Jujur saja, setiap kali aku melihat Ridha, aku selalu ingat Feri, entah kenapa... Kalo seandainya perasaanku sebagai seorang ibu ini benar, aku masih berat mengizinkan Aisya bertunangan dengan Andre atau Gus Aan seperti yang diharapkan Mas Zein juga Mbak Ira. Apalagi seperti yang pernah Mas Zein bilang, kalo sampai ini terjadi, Aisya akan ikut suaminya tinggal di Kairo dan melanjutkan kuliahnya disana.. Lantas bagaimana denganku disini? Aku sudah sayang sekali dengan Aisya, layaknya anak sekaligus menantuku sendiri.

"Begini adikku", sapa lembut ayah.

"Mungkin sudah waktunya aku mengatakan yang sebenarnya padamu... Hmm, sebenarnya kecelakaan Arif dan anakmu Feri bukan peristiwa kecelakaan biasa...", jelas ayah.

"Maksudnya?? Aku tidak mengerti", balas tante.

"Yah, apa tidak sebaiknya Aisya pergi ke kamar dan tidak ikut mendengar semuanya?", tanyaku.

"Tidak Aisya, kamu tetap disini mendengarkan semua yang akan ayah ceritakan pada tantemu, juga padamu", jawab ayah.

Aku hanya bisa nurut dan ikut menyimak penjelasan ayah...

"Sebenarnya begini, pada waktu kecelakaan itu Ridha sedang ada di tempat kejadian. Dia naik motor hendak menjemput ibunya di terminal. Tapi sayang, bukan ibu yang seharusnya dia jemput, malah kemalangan yang dia dapat. Ketika kecelakaan itu, dia juga menjadi korban. Dia terpelanting dengan sepeda motor yang ditumpanginya sehingga menyebabkan tangan kanan patah dan kedua kornea matanya sobek..

"Astaghfirullaah, bagaimana semua ini bisa terjadi?!", teriak tante secara spontan.

"Iaa... seperti itulah kejdian sebenarnya", jelas ayah.

"Waktu kecelakaan itu terjadi, Feri sempat melihat Ridha dan sepeda motornya terpelanting ke belakang. Sejak dirawat inap, Feri tidak berhenti menanyakan kondisi ayahnya dan nak Ridha yang juga menjadi korban dari peristiwa mengenaskan itu. Feri berpesan padaku untuk membantu korban bersepeda motor yang sempat ditabrak mobil ayahnya... Dia terus memohon kepadaku untuk membantu semua kebutuhan Ridha. Meskipun harus mengorbankan sesuatu dari miliknya. Dalam kondisi yang meneganggkan itu, aku tidak kuat kalo harus memberitau yang sebenarnya padamu, Apalagi sejak kematian Feri di rumah sakit, kamu terus mengurung diri, bahkan tidak mau ikut serta dalam prosesi pemakamannya. Aku sangat khawatir dengan kondisimu saat itu, kalo harus memberi tau detail semunya", jelas ayah.

"Dokter yang merawat Ridha sempat memvonis dia buta selamanya. Aku hanya bisa melaksanakan pesan terakhir Feri untuk mengurus semua keperluan Ridha, satu-satunya korban selamat dari kecelakaan itu. Termasuk menyetujui pendonoran mata milik Feri ke Ridha...", tambah ayahku mengahiri semua penjelasan singkatnya.

Tante Hera hanya bisa diam dan syok dengan cerita ayah. Ibu yang berusaha menenangkan tante menyuruhku mengambil air putih di ruang makan. Mukena yang ku pakai ikut basah dengan tangis peristiwa masa lalu keluarga kami...

"Ridha... Pantas saja... Aku melihatmu seperti anakku Feri", kata-kata Tante Hera sambil terisak air mata.

...(@_fa)

CerBung, Part 1 : Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia . . . ^_^
 
16.05.2011 | Author: Ahmad Falah | Posted in Kembang Anggrek FB Notes
Kota Kenangan, senin 12-4-2008

Hari ini, hujan deras mengguyur Kota Kenangan (Batu, Malang) tempat Tante Hera mengajariku tata cara mendisain gaun pernikahan dan baju-baju pesta. Aku sebut tempat ini sebagai Kota Kenangan, karena banyak hal yang dialami keluargaku di kota kecil ini. Selama dua tahun tante mengajariku banyak hal, tak lain karena beliu benar-benar jeli melihat potensi melukis yang aku miliki. Meskipun harus berlatih keras dengn mengikuti kursus-kursus yang tante jadwalkan untukku, aku tidak pernah merasa bosan dengan dunia yang terasa baru itu; selain karena aku ingin lebih eksis menyalurkan bakat yang sudah aku tekuni sejak kelas 2 SD.

. . . . . . .

Sejak dua tahun yang lalu setelah kelulusan MA di Ponpes al-Huda, aku diminta mengurus salah satu cabang Butik terkenal yang dikelola tante dan ayahku; sebuah usaha yang sudah berjalan 43 tahun lamanya. Banyak hal baru yang aku dapat dari usaha ini, berbeda jauh dengan doktrin-doktrin religi yang pernah aku tekuni di Pesantren. Tante Hera yang sudah aku anggap sebagai ibu kedua bagiku benar-benar serius mengelola usaha ini. Selain kaya raya, tante juga terkenal ramah dan dermawan. Sayangnya, beliau tidak memiliki keturunan lagi setelah suami dan anak pertamanya mendapat kecelakaan di Batu ketika hendak menjemput Tante yang sedang berlibur sekaligus mengecek perkembangan usaha butik kami disana.

Aku ingat sekali peristiwa yang sangat tragis itu. Keduanya mendapat musibah tepat di pertikungan yang berjarak 150 meter dari area butik. Bus pariwisata yang tiba-tiba muncul membuat Om Arif tersentak dan membelokkan mobil yang ditumpanginya secara tiba-tiba. Belokan yang sangat kuat itu menyebabkan mobil tergelincir ke jurang dekat sungai yang berakhir dengan kematian Om Arif. Sedangkan mas Feri yang terluka parah segera dilarikan ke UGD Rumah Sakit terdekat. Selang dua hari dirawat inap, mas Feri menghembuskan nafas terakhir yang membuat Tante Hera sangat sedih dan terpukul dengan peristiwa ini; peristiwa yang benar-benar merenggut hati dan jiwanya.

Selama enam bulan, Tante Hera tidak pernah berbaur dengan sekitar. Beliau bahkan merasa terus dibayangi kejadian yang beliau anggap sebagai kesalahan terbesarnya sekaligus kesengajaan yang tidak akan pernah dimaafkan oleh almarhum suami dan anaknya. Ayah dan pihak keluarga terus mendorong dan menyemangati tante untuk tetap bertahan dan bersabar dengan terus mendoakan suami dan anaknya, karena hanya itulah yang membuat keduanya tenang di alam sana. Peristiwa menyakitkan itulah yang membuat Tante meninggalkan rumah mewahnya di Semarang dan tinggal denganku di Kota ini; hanya keinginan untuk tetap bekerja mengelola butik dan mengenang suami maupun anaknya.

Waktu itu, aku masih sangat kecil untuk tau lebih detail peristiwa yang menimpa keluarga Tante Hera. Seingatku, pasca kematian Om arif, aku dijemput ayah di Pesantren dan langsung menjenguk mas Feri di Rumah Sakit. Aku tidak diperbolehkan menemui tante yang memang sedang syok dan terpukul dengan kecelakaan tak terduga itu. Sampai pada prosesi pemakaman mas Feri yang berlangsung hikmad, aku langsung dibawa ke Pesantren dan kembali sibuk dengan kegiatan-kegiatan disana. Ada sekelumit kesedihan yang menimpaku sejak kepergian kakak sepupuku itu, tanpa pernah tau adanya kesepakatan yang sudah terjalin antara keluarga ayah dan adiknya, Tante Hera, tentang masa depanku dan mas Feri yang sudah direncanakan sejak dua bulan aku ditempatkan di Pesantren. Kedua keluarga sepakat akan menjodohkanku dengan mas Feri setelah aku lulus MA dan dia sudah di bangku kuliah.

Aku bahkan baru sadar sekarang; setelah Tante memberiku peluang untuk mengurus usaha ini, setelah tante juga ikut tinggal denganku dan menyerahkan usaha butik di Semarang pada ibuku, setelah Om Arif dan mas Feri lenyap dari kehidupan kami, dan setelah dua tahun aku menekuni semuanya. Aku baru sadar bahwa perjodohan yang dulu pernah disepakati itu semata-mata dilakukan karena alasan bisnis keluarga. Tante Hera sangat berperan dalam disain gaun yang kami kelola, sedangkan ayahku cukup berpengaruh dalam permodalan dan marketing di berberapa relasi yang beliau bangun. Mengingat semua itu, aku sangat terharu dengan sikap dan kasih sayang Tante Hera yang benar-benar menganggapku seperti anaknya sendiri. Meskipun aku tidak banyak tau tentang kakak sepupuku mas Feri, setidaknya aku sudah pernah menjadi teman kecilnya waktu SD dulu. Bejalar dan bermain bersama di halaman rumahku… Sayangnya setelah lulusan SD, ibu ngotot ingin menyekolahkanku di Pesantren. Dan Ayah tidak punya alasan kuat untuk mencegah keputusan ibu yang memang sudah menjadi wasiat kakekku dulu, agar cucunya Aisya dimasukkan ke Pesantren setelah lulus SD!!.



Pesantren juga yang menjadikanku jarang bertemu mas Feri, bahkan mungkin aku akan sangat malu sekali ketika harus dipertemukan dengannya. Sehingga pertemuan ketigaku itu sampai pada kematian mas Feri yang menyedihkan itu. Kelas dua MTS aku harus menyaksikan kepergian mas Feri yang masih kelas 2 SMA. Sungguh peristiwa yang benar-benar mengharukan

. . . . . . .



“Assalamu ‘alaikum”, sapa seseorang yang terlihat basah kuyup karena kehujanan. Dari sikapnnya, dia nampak baik meskipun masih terlihat gugup dari cara bicara dan gerak tubuhnya.

“Maaf, saya Andre, adik kak Yuli… saya disuruh kak Yuli mengambil gaun yang sudah seminggu dipesan”, lajutnya.

“Oowh… adiknya kak Yuli… iya, tunggu sebentar. Saya ambilkan gaunnya. Oowh iya lupa, silahkan duduk di depan…”, balasku.



Aku pergi mengambil gaun yang menurutku sangat berbeda selama aku mendisain baju-baju di butik ini. Gaun pesanan Kak Yuli, seorang pengajar di SMA al-Irsyad. Meskipun sudah setahun dia menjadi langganan di butik kami, tapi aku belum pernah mendapat pesanan seistimewa ini; disain unik, sederhana tapi elegan. Sejauh ini, kak Yuli yang selalu menentukan dan mengaturku dalam mendisain gaun-gaun yang diinginkan teman-temannya. Tapi untuk yang satu ini, dia benar-benar memberiku kepercayaan utuh untuk mendisain Gaun pernikahan terbaik, “menurut cita rasa yang ku miliki“… Dia tidak banyak menentukan gaya dan model yang diinginkan seperti pesanan-pesanan sebelumnya, entah “kenapa…”.

Aku mengambil gaun itu, membungkusnya rapi dan bergegas membawanya ke depan.

“Kak andre, ini…”, sapaku memecahkan keheningan di ruang tunggu.

“Maaf sebelumnya, sekedar nanya, kok tumben kak Yuli tidak ikut datang sendiri untuk menjemputnya? Bisasanya dia datang bersama teman-temannya dan mencoba gaun ini disini”, tambahku.
“Hmmm… sebenarnya kak Yuli sengaja menyuruhku menjemput sendiri gaun ini. Liat saja aku basah kuyup begini

“Insya Allah, suratnya Aisya sampaikan ke Tante… Eh iya, sekalian bawa adja tisunya semua… Sambi dilap pas dijalan ntar…”, lanjutku.

“Ya udah, aku pamit pulang… Senang sekali bisa mengenal Aisya… Tapi, kalo boleh kakak saranin, jangan sering-sering melamun… Ntar pelanggannya pada kabur…”, sambil tersenyum lebar kak Andre mengucapkan salam dan pamit pulang.

Aku yang merasa bingung dan malu denga kata terakhirnya itu, hanya bisa diam dan kembali mencerna kata-kata yang sengaja dia ucapkan untuk menasehatiku. Mungkin saja, lamunanku tentang masa lalu Tante tadi membuatnya harus menunggu lama didepanku dengan kondisi basah kuyup, aku hanya tertawa cekikikan mengingat kembali nasehat kak Andre….

Sorenya…

“Tante, ada titipan dari kak Yuli..”,. sapaku ketika Tante Hera sedang memilih kain untuk gaun yang baru di pesan Bu Erli, pelanggan setia kami.

“Oowh… Akhirnya datang juga surat itu…, ya udah sini… Aisya bacain adja suratnya. Biar Tante ngga dibilanng menyembunyiin sesuatu dari Aisya…”, balas tante dengan tenang sambil terus fokus dengan tumpukan-tumpukan kain di depannya.

Aku yang merasa aneh dengan sikap tante itu, hanya bisa nurut dan membuka surat yang terbungkus rapi itu, dan mulai membacanya…:

“Assalamu’alaikum. Mbak Hera yang dicintai Allah, aku tepati janjiku hari ini… Aku kirimkan surat ini lewat adik sepupuku Andre yang “sengaja” datang untuk menjumpai Aisya. Sebenarnya Andre ingin ta’aruf dengan Aisya dari dulu, tapi aku tidak mengizinkannya sebelum aku bicara baik-baik dengan mbak Hera juga mas Zein, ayah Aisya… Ta’aruf itu sengaja dilakukan Andre, meskipun dia sudah pernah melihat Aisya dua tahun yang lalu, ketika KH musthafa menyerahkan piagam penghargaan kepada Aisya sebagai Santri Teladan di Ponpes al-Huda. Aan Subhan yang biasa dipanggil Guz Aan tak lain adalah Andre yang mengirimkan surat ini padamuu. Sekarang, aku hanya bisa berharap Aisya setuju dengan ini semua, termasuk “setuju” untuk menerima gaun pengantin yang aku pesan buat dia pakai nanti…. Trimakasih atas perhatiannya, mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah dariku…”.

Ttd: Yuliana Mukarrom”.

Setelah membaca surat yang sedang aku pegang itu, aku menatap lekat-lekat wajah tante Hera yang hanya menorehkan senyum bahagianya padaku… Sambil tak henti bertanya-tanya tentang Tamu tadi siang…:

“Gus Aan??! Bukannya dia putra sulung KH Musthafa, pengasuh PonPes al-Huda??! Dua tahun yang lalu dia pernah pulang ke Semarang setelah menyelesaikan S1nya, tapi… Bukannya dia masih di Kairo untuk melanjutkan studinya?!! Bagaimana ini??! Apa aku harus menerima lamaran itu?! Dan kalo itu terjadi, apa aku harus ikut dia ke Kairo?!! Apa yang sebenarnya terjadi denganku??! Gaun yang aku disain itu…?! Oowh… Aku sangat bingung memikirkan semua yang terjadi dengan begitu singkat ini…”.



…. (@_fa)